Kejar Impian, Jangan Takut Untuk Melangkah Ke Depan

Impian merupakan suatu hal yang ingin diwujudkan, sebuah harapan yang pastinya telah melekat pada setiap insan manusia. Kita semua pasti memiliki impian, dengan adanya impian itu langkah demi langkah akan terarah dan terukir dalam sejarah kehidupan kita. Kita semua pasti ingin impian itu terwujud bukan? Sama halnya kita sekarang ini yang telah memasuki masa perkuliahan yang merupakan sebuah impian kita di masa lalu. Tentu saja, impian tidak akan terputus sampai disini, impian akan terus berkembang dan diri kita akan melukiskan sebuah impian yang lebih besar dari impian yang lalu.

Menjadi seorang mahasiswa pastinya tidak cukup hanya sekedar kuliah pulang kuliah pulang atau bahasa gaulnya menjadi “kupu-kupu”. Seorang mahasiswa harus mampu ikut berkontribusi dalam sebuah organisasi, menyampaikan aspirasi dan juga tidak lupa untuk tetap mengait prestasi. Siapa sih orang tua di dunia ini yang tidak bangga jika anaknya berprestasi? Ngomong-ngomong soal prestasi, dua orang mahasiswa kimia mampu lolos PIMNAS 2019. Siapakah mereka?

Mereka berdua adalah mahasiswa aktif kimia yang bernama Jeesica Hermayanti Pratama mahasiswa angkatan 2017 dan rekannya yang bernama Amalia mahasiswa angkatan 2016. Mereka memilih bidang PKM-PE (Penelitian Eksakta). Mereka memilih jenis PKM-PE ini dikarenakan sesuai dengan salah satu visi dan misi kimia yaitu menjadi program studi yang unggul dalam riset dengan menyelenggarakan penelitian di bidang ilmu kimia yang berkualitas dan dipublikasikan secara nasional maupun internasional. Dalam PKM-PE ini mereka mengangkat judul “B-CAN (Bioplastics based on Cellulose Acetate Nanofiber) dari Eceng Gondok Pengganti Plastik Konvensional”. Dari judulnya saja sudah terlihat sangat menarik dan mampu mengatasi masalah plastik yang sedang melanda saat ini. Lantas, itu gimana sih tekniknya, bahannya apa, dan hasilnya apa?

Jeesica Hermayanti Pratama atau yang akrab disapa dengan Jee memaparkan “Jadi singkatnya itu isolasi selulosa dari eceng gondok yang sudah dikeringkan, lalu dibuat formulasi bioplastik dengan penambahan pati, kitosan, dan gliserol (plasticizer), kemudian dicetak lembaran plastik (dengan pemanasan lewat oven). Produk akhirnya berupa bioplastik lembaran yang dapat diuji kuat tarik dan sifat degradabilitasnya, serta dikarakterisasi menggunakan instrumen SEM dan FTIR” ungkap Jee. Gimana? Hebat bukan?

Nah, dalam mencapai sesuatu pastinya tidak semulus cerita komik atau bahkan tak seindah FTV. Dalam PKM ini, Jee dan Amel tentunya menghadapi berbagai tantangan dan cobaan. Tantangan mereka hadapi ditiap-tiap prosesnya mulai dari fase pengajuan proposal, fase setelah pengumuman dan didanai, dan fase lolos PIMNAS. “Pertama, fase pengajuan proposal. Dalam penyusunan proposal harus menyesuaikan pedoman PKM, untuk itu harus konsultasi dengan dosen, kemudian revisi. Kedua, fase setelah pengumuman dan didanai, fase ini merupakan fase yang terberat. Saat melakukan penelitian, ada metode yang harus diganti, karena hasil yang tidak sesuai. Pada fase ini, sangat diperlukan kekompakan tim.  Selanjutnya fase lolos PIMNAS.  Pada fase ini, mempublikasi dan memperbaiki presentasi dengan tujuan untuk mendapat nilai plus saat penjurian. Dalam PKM ini, hal yang paling diuji adalah ketekunan, konsistensi, dan kerjasama tim” Ungkap Amel. Gimana-gimana seru gak nih tantangannya?

Selain tantangan, pastinya ada pengalaman yang menarik dong, pengalaman yang berkesan apa nih kira-kira menurut mereka berdua? Menurut Jee “Pengalaman ikut monitoring oleh Mawa UNS selama keberjalanan PKM didanai, ngelab sampai malam bahkan terkunci di gedung C, jeda kelas bolak-balik ke lab ngecek oven, terus juga serangkaian PKM itu seru. Ikut pelatihan public  speaking dan bikin ppt yang bagus di rektorat, trus nulis artikel buat jurnal dan ikut konferensi-konferensi buat mendukung luaran itu semua nggak terlupakan. Apalagi deg-degannya waktu monev, trus juga waktu ngejar hasil  buat persiapan PIMNAS, sampai ke PIMNAS itu semuanya berkesan Pokoknya kalau ikut PKM dan didanai itu insyaAllah segalanya yang serba difasilitasi oleh UNS. Pernah juga waktu itu pas malam deadline laporan akhir dan anggota timku lagi nggak ada yg bisa megang akhirnya ngerjain di depan sekre sambil rapat/kumpul PHT, bener-bener di menit-menit terakhir ngumpulinnya,  Padahal kalau deadline risiko server down, tapi Alhamdulillah masih dikasih kesempatan” ujar Jee. Gilaa menarik bukan pengalamannya? Pengalaman berkesan yang hanya terlewat sekali, sayang sekali kalau dilupakan. Bagaimana nih kalian? Yakin belum minat melukis pengalaman-pengalaman seru seperti mereka?

“Aku takut sibuk, kan aku juga ikut organisasi, aku takut enggak bisa membagi waktu,” Itukah ketakutan kalian? Tenang.. Amel dan Jee berbagi tips nih buat kita semua. Cara membagi waktu antara kuliah dan PKM menurut Amel yaitu bahwa kuliah tetap nomor satu. PKM dikerjakan di luar jam kuliah. Amel juga pernah mengikuti organisasi Himamia dan SIM (Studi Ilmiah Mahasiswa) jadi tentunya sudah terlatih untuk mengatur dan menentukan prioritas “Perbanyak relasi dan tunjukan versi terbaik kamu ke publik, mulai dari circle pertemanan di kampus. Kalau ada kesempatan, jangan dianggurin, ambil! Gak ada tawaran yang kebetulan di dunia ini. Kalau ada yang nawarin berarti orang itu tertarik dan percaya dengan potensi kita. Motivasinya simpel sih, pengen jalan-jalan gratis, pengen mempercantik CV dan pastinya nambah pengalaman sebagai nilai jual di masa mendatang, entah untuk dunia kerja atau keluarga,” Jelas Amel.

Nah, disisi lain Jee juga ikut nih berbagi tips dan motivasinya untuk kita “Jadi… sebetulnya PKM tu ajangnya anak MIPA banget (sangat cocok), apalagi kebanyakan riset itu butuh anak Kimia. Biasanya temen-temenku (di SIM) juga nyari anak Kimia semisal ada riset ilmiah. Permasalahannya sekarang itu, kita (sebagai anak Kimia) mau nggak buat unjuk diri. Kebanyakan masalahnya di takut, padahal nggak masalah untuk memulai hal yang bener-bener baru… karena sebetulnya PKM itu bukan ajang untuk “mereka yg udah tau” aja, tapi ajang untuk mereka yang belum tau dan mau tau juga. Ayolah banyak-banyak belajar di luar kelas, salah satunya perbanyak ikut kegiatan keilmiahan (lomba contohnya). Soalnya kita ilmu yang butuh banyak skill lab juga, kalau nggak saat kuliah kita pupuk…mau kapan bisa mulai dengan fasilitas gratis?” Ungkap Jee.

Intinya, jangan takut untuk melangkah ke depan. Janganlah takut untuk mengambil kesempatan, karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Apalagi, ini sangat cocok untuk kita sebagai anak MIPA khususnya mahasiswa kimia. Jangan merasa kurang percaya diri, karena bagaimana kita mengetahui kemampuan kita sebelum kita mencoba? Ayo bangkit dan ikut serta mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa berprestasi selanjutnya.

Dibuat oleh:

  1. Desy Nila Rahmana (Kimia 2019)
  2. Nisrina Rahma Firdausi (Kimia 2019)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *