Gapai Ilmu Hingga Negeri Jerman

Hallo readers!! Kali ini ada cerita menarik bersama kakak kita yang akrab disapa Rujito. Disini, kita akan sharing mengenai kuliah di Leipzig, Jerman. Cerita menariknya dimulai dari awal bagaimana Rujito melanjutkan studinya di Jerman. Pada awalnya Rujito sudah mendaftar untuk tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), namun jadwal untuk melaksanakan tes tersebut bersamaan dengan penghargaan peneliti muda MERCK Young Scientist Award 2018  yang ia ikuti. Laki-laki alumni UNS ini sudah mencoba menemui panitia tes CPNS untuk menjadwalkan ulang untuknya, namun tetap tidak bisa. Rujito memutuskan untuk mengikuti MERCK Young Scientist Award karena menurutnya penuh tantangan dan ia berhasil menjadi salah satu finalis.

Setelah batal mengikuti  tes CPNS, Rujito mencoba mencari pekerjaan lain, namun belum berhasil. Saat itu, secara kebetulan, Universitas Leipzig sedang membuka beasiswa untuk calon doktor yang berprestasi selama 1 tahun yaitu beasiswa Erasmus+. Rujito mencoba mendaftar beasiswa tersebut dan diterima. Karena beasiswa ini untuk 1 tahun, Rujito harus mencari beasiswa untuk melanjutkan S3. Rujito berhasil mendapat beasiswa melalui beasiswa DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst).Ketika seleksi beasiswa DAAD, Rujito mempunyai cerita sendiri. “Aku dapet jadwal interview paling terakhir. 2 ruangan disiapkan untuk kategori sains dan sosial, umumnya interview dilakukan selama 10-15 menit. Karena aku jadi saksi saat ngeliat semua para pendaftar keluar ruangan mukanya pucet, gelisah, resah, gak yakin sama interviewnya. Itu ngebuat aku makin deg-deg an dan cemas” cerita Rujito.  Waktu interview tiba, setelah melewati pertanyaan-pertanyaan dengan lancar, Rujito diberitahu oleh seorang koordinator acara bahwa ia berada di posisi pertama dan dari Indonesia ada 5 orang yang juga lolos. Keren!

Saat beradaptasi di tempat baru tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Cara Rujito beradaptasi di Jerman sesuai dengan motto hidupnya, yaitu ia tidak mati-matian mengejar hal yang tidak dibawa mati. Motto itulah yang menjadi pegangannya ketika beradaptasi di Jerman. Menurutnya, cara beradaptasi masing-masing orang berbeda-beda. Rujito sendiri mengaku sudah terbiasa ketika menempuh studinya di UNS yang juga jauh dari asalnya. Kebutuhan sehari-harinya di Jerman sudah tersedia dengan mudah, misalnya transportasi yang sudah masuk dalam biaya semesternya, jadi tidak perlu ragu jika ingin naik bus, tram, dan kereta.

Kendala yang dialami mahasiswa Leipzig ini pada awal-awalnya adalah bahasa sehari-hari, karena sebagian besar orang tua di Jerman kurang bisa berbahasa Inggris. Selain itu, kendala mengenai kesulitan beribadah, karena di Jerman tidak ada adzan sehingga jika akan beribadah harus izin ke professor atau supervisornya. Selain itu, mengenai makanan halal juga menjadi hal yang harus diperhatikan.

Selama menjalani kuliah di Jerman, Rujito tidak hanya berkuliah, ia aktif dalam beberapa kegiatan. Kegiatan yang ia ikuti antara lain, Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI. Di PPI ini ia berpartisipasi dalam berbagai kegiatannya seperti ramah tamah dan  kumpul bareng dengan seluruh orang Indonesia yang berada di Leipzig terutama. Selain itu, Rujito juga mengikuti komunitas seperti komunitas muslim Leipzig dan earthling. “Komunitas muslim Leipzig, kebetulan di Leipzig itu pelajarnya ada ustadz dari gontor sama novelis terkenal Habiburahman el shirazy, yang nulis ayat-ayat cinta. Jadi kita sering ngelakuin pengajian, kajian-kajian yang bermanfaat biar tidak luntur keimanan kita. Kalau earthling sebenernya komunitas global, dari seluruh penjuru dunia. Kebetulan aja yang earthling_id itu dibuat dari pelajar yang ada di jerman. Kegiatannya macam-macam, dari ngadain perlombaan dengan bekerjasama dengan KBRI Berlin, ngadain diskusi ringan seputar SDG dan campaign-campaign yang sekiranya mampu meningkatkan awareness tentang pentingnya menjaga lingkungan” ujar Rujito.

Masalah utama pelajar di sana, dalam mencari pekerjaan part time sangat mudah dan penghasilannya minimal 450 Euro per bulan. “Jadi pelajar pelajar yang disini jadi mudah terdistraksi dari kewajiban utamanya yaitu belajar. Dari 2016 aku disini, aku baru kenal 2 temen aku yang baru selesai kuliahnya, yang lain kebanyakan udah kandas ditengah jalan dan harus balik habis ke Indonesia dengan tangan hampa karena fokusnya terbagi”. Tidak sedikit dari mahasiswa Indonesia yang fokus belajarnya terbagi, sehingga kuliahnya berantakan dan nilainya buruk yang dapat berakibat DO atau drop out.

Setiap orang pasti mengalami yang namanya penat dan stress, Begitu pula yang dialami Rujito. Ia juga pernah mengalami stress akibat dikejar deadline dan diomelin. Dalam mengatasi hal tersebut, Rujito menghibur dirinya dengan melakukan hobi-hobinya. “olahraga itu penting sih buat ngejaga keseimbangan jasmani dan rohani wkwkw, makanya aku suka futsal sama sepedaan, apalagi kalo sepedanya nemu gratis wkkwk” ungkap Rujito.

Setelah menjalani kuliah di Leipzig, menurut Rujito kekurangan kuliah disana yaitu ada beberapa fasilitas yang kurang mendukung untuk pelajar muslim, dimana di kampusnya tidak ada tempat solat dan tempat wudhu. Namun, untuk makanan halal dan masjid tidak perlu khawatir. Di Leipzig banyak masjid dan ada kampung arab jadi tidak perlu cemas apalagi gelisah. Lantas untuk kelebihannya sangatlah banyak. Seperti pendidikan disana hampir gratis dengan fasilitas yang tidak perlu diraguin. Kita juga tau kalau Jerman itu penghasil paten terbanyak di dunia, penemuan-penemuan, ahli-ahli dibidangnya sudah kelihatan dari jaman dahulu.  “Aku dulu baca-baca jurnal buat skripsi aku, eh tiba-tiba sekarang bisa ketemu langsung didepan mata sebagai profesor utama aku. Gak nyangka wkwkw. Jadi wajar aja kalo setiap universitas di Jerman itu fasilitasnya lengkap dan memuaskan. Ambil contoh di kampus aku, semua alat karakterisasi ada lengkap, gak perlu takut buat mati lampu atau rusak” kata Rujito.

Foto Rujito Sesariojiwandono Ridho Suharbiansah saat berada di Leipzig, Jerman

Siapa nih yang kepengen kuliah di Jerman? Menjadi pelajar di jerman akan membuka peluang beasiswa makin lebar, salah satu keuntungan bisa kuliah di luar negeri, bisa memiliki personal branding lebih sehingga menjadi kesempatan untuk memperluas karir secara akademik maupun non akademik jadi lebih besar.

Oke readers, sepertinya telah usai nih cerita dari Rujito. Eitss, tunggu dulu.. rasanya tak lengkap kalau belum mendapatkan pesan hangat dari kakak kita ini. Kini Rujito berpesan “Harus pinter-pinter membagi waktu, karena yang kamu lakukan saat ini akan menentukan 4 tahun lagi dari sekarang. Kuliah itu gak cuma sekedar mencari nilai, duduk didepan laptop, nyontek bareng bareng. Kuliah itu salah satu jalan untuk memperluaskan kemampuan akademik maupun non akademik yang bakal kamu gunain nanti di kehidupan nyata. Gak usah mati-matian untuk mengejar hal yang tidak dibawa mati” pesan hangat Rujito. Tak terasa sudah waktunya kami untuk pamit. Semoga apa yang kami berikan ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Ikan Hiu pergi ke KUA, Sampai Jumpa semua!!

Oleh:

Desy Nila Rahmana (M0319016)

Nisrina Rahma Firdausi (M0319054)

Kuliah Sambil Kerja, Kenapa TIDAK??

Kata orang, kuliah jangan cuma kuliah, jangan cuma sekadar belajar mata kuliah. Setelah kemarin kita bahas kuliah sambil berorganisasi, kali ini ada mahasiswa Kimia UNS yang kuliah sambil kerja. Belum lulus kuliah, tetapi udah kerja. Mantab banget bukan? Yuk-yuk, simak artikel kali ini!

Kali ini bersama M. Zola Erlangga yang biasa dipanggil Zola ini merupakan mahasiswa semester 5 yang kini menjalani kuliahnya sambil bekerja. Awal pertama kali masuk ke dunia kerja, Zola menjadi penjaga outlet es krim di sebuah mall di Solo, sedangkan yang sekarang sedang ia tekuni adalah freelance sebagai wedding organizer dan barista. Pada awalnya Zola berpikir untuk bekerja yang penting dapat uang, tapi sekarang justru berubah pikiran karena menurutnya seru karena bisa bertemu banyak orang yang punya achievement di bidang masing-masing. Bisa bertemu customer yang kerja di perusahaan besar dan punya cerita menarik di balik kesuksesannya. Hal inilah yang menjadi sisi menarik dari bekerja menurut Zola. Selain itu, mengubah mindsetnya yang dulu bekerja untuk mencari uang, sekarang juga untuk mencari ilmu dan relasi.

Tentunya bekerja juga butuh akan perjuangan. Saat menjadi barista, Zola harus belajar dahulu cara membuat kopi. Cara belajar Zola dengan sharing bersama temannya yang telah berpengalaman, nonton melalui Youtube, Instagram ataupun media yang lainnya. “Sharing sama temen, dari Youtube, Instagram atau apapun yang bisa dipelajari” cerita Zola.

Selama menjadi barista, banyak ilmu yang Zola dapatkan, mulai dari ilmu tentang dunia kopi, ilmu managemen kopi, dan ilmu mengenai resep kopi. Sementara itu, ilmu yang Zola dapat selama menjadi wedding organizer yaitu, cara memberikan service untuk orang lain dan bagaimana tetap menjaga mood baik meskipun di belakang layar ada masalah lain, serta ilmu bagaimana agar tidak mudah panik saat menghadapi sesuatu. Ilmu-ilmu tersebut menurutnya sederhana, namun sangat berguna

Kuliah sambil bekerja tentunya ada pembagian antara keduanya. Cara membagi waktu untuk kuliah dan bekerja menurut Zola yaitu, tugas kuliah dikerjakan di waktu senggang, karena jika waktunya dibagi-bagi akan menjadi tidak fokus ketika tiba-tiba ada orderan. Menurutnya, Zola hanya perlu melakukan yang terbaik untuk semua tugas dan masalahnya, karena apa yang menjadi milik kita tidak akan tertukar. “Yang penting itu “do the best“. Semua yang sudah jadi milik kita, gak bakal dimilikin orang lain. Doi sekalipun, hahaha” ungkap Zola.

Menjalani kuliah sambil bekerja tentunya ada perasaan jenuh dan lelah. Namun, itu semua dapat diatasi Zola dengan menenangkan pikiran, misalnya dengan mengelilingi Solo. “Jenuh karena haus akan ilmu iyaa, capek fisik iya. Tapi itu bisa kok disehatin dengan menenangkan pikiran, muterin solo aja udah cukup” kata Zola. Seorang Zola ini cukup tenang dalam menghadapi masalah yang menimpanya. Menurutnya masalah pasti akan ada terus, tinggal kita jalani saja. “Sederhananya gini lhoo, ujian itu udah pasti adanya, yang penting lakuin persiapannya. Masalah pun juga gitu, selalu ada, gak mungkin engga ada. Yaudah balik lagi ke pikiran tadi, menganggap itu masalah biasa atau luar biasa” tambah Zola.

Mikirin masalah mulu, nggak akan ada habisnya. Kita juga perlu meluangkan waktu untuk yang lainnya. Misalnya meluangkan waktu untuk hobi kita. Disela-sela kesibukannya Zola juga masih sempat untuk melakukan hobi. Karena sesibuk apapun, hobi pasti akan dilakukan. Dalam hal ini, Zola memiliki hobi membuat konten, fotografi dan design yang bagus-bagus dan menarik. Penasaran? Bisa nih, langsung mampir ke instagram Zola.

Sudah sampai dipenghujung cerita nih, rasanya kurang lengkap kalau belum ada pesan special dari orang yang special. “Do the best buat segala hal yang kalian lakukan dalam berproses meraih asa. Asa tiap orang berbeda, jadi prosesnya pun gak selalu sama. Mimpi kalian sendiri yang tentukan, proses kalian sendiri yang jalani, resiko kalian sendiri yang tanggung. Cuman gak ada salahnya buat kalian mencari orang yang punya asa sama biar kalian gak sendiri dan gak ada salahnya mencari motivasi buat semuanya” Pesan hangat Zola. Semoga kita semua bisa menggapai mimpi kita dengan cara kita masing-masing. Sepertinya kami harus pamit dulu, bye bye readers.. sampai jumpa di artikel selanjutnya!!

Oleh:

Desy Nila Rahmana (M0319016)

Nisrina Rahma Firdausi (M0319054)

[PRESS RELEASE] National Scientific Essay Competition (NSEC)

Dokumentasi National Scientific Essay Competition

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami mampu melaksanakan acara National Scientific Essay Competition (NSEC) pada tahun ini. Banyaknya mahasiswa yang mendaftar berjumlah 52 yang terbagi dalam 28 kelompok dimana setelah melalui tahap penjurian akan dipilih 10 besar finalis yang nantinya akan melakukan presentasi pada tanggal 19 September 2020 dan yang akan dipilih menjadi 3 besar sebagai juara umum serta 1 kelompok untuk best presentation.

Rangkaian kegiatan pada hari pertama 19 September 2020 dengan persiapan pada pukul 07.00 WIB untuk mengecek kesiapan presentator dan MC oleh sie acara. Setelah itu, menunggu semua finalis masuk pada pukul 07.50 WIB dan acara pun dimulai. Untuk penilaian pada tahap ini, panitia meminta kesediaan dari beberapa dosen untuk penjurian yaitu dari Candra Purnawan S.Si., M.Sc., Dr. Khoirina Dwi N., S.Si., M.Si., Ardhi Wijayanto, Edi Pramono, S.Si., M.Sc, dan Dr. Ahmad Pramono. Namun, pada tahap penilaian akhir ini yang hadir hanya pak Ahmad Pramono, Ardhi Wijayanto, dan Dr. Edi Pramono, S.Si., M.Sc.

Acara dimulai dengan pembacaan CV (curriculum vitae) dari para juri (Dr. Edi Pramono, Ahmad Pramono, Ardhi Wijayanto) pada pukul 07.50 WIB. Kemudian, acara dilanjutkan dengan presentasi pertama pada pukul 08.00 WIB dari kelompok Piece Maker dengan anggotanya yaitu Jodii Arlan Kurnia dan Abdi Malik Rahardjo yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Malang dengan judul “Food Guiding and Controlling for Healthy (Ficforty) : Aplikasi Kuliner Berbasis Android untuk Pencegahan dan Rehabilitasi Penderita Metabolic Syndrome demi Mewujudkan Indonesia Emas 2045” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri kepada finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan pertama selesai pada pukul 08.25 WIB dan dilanjut dengan presentasi finalis urutan kedua.  Presentasi urutan kedua dilaksanakan pada pukul 08.25 WIB dari kelompok Magnesibarium dengan anggota kelompok yaitu Bagus Indra Suwaji dan Nurul Hidayah yang berasal dari Universitas Sebelas Maret dengan judul “Arang Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Dasar Sintesis Komposit Reduced-Graphene/Silver Nanoparticles (rGO/AgNPs) dengan Reduktor NaBH4 yang Diaplikasikan Untuk Material Sistem Penghantar Obat” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri kepada finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan dua selesai pada pukul 08.50 WIB dan dilanjut dengan presentasi finalis urutan ketiga. Presentasi urutan ketiga dilaksanakan pada pukul 08.50 WIB dari kelompok UNNES dengan anggota kelompok yaitu Janahtan Firdaus dan Sri Widowati yang berasal dari Universitas Negeri Semarang dengan judul “Indonesia Maju Daulat Energi Melalui Power Plant Microhydro at Skyscrapers (POPES): Inovasi Instalasi Pembangkit Listrik pada Gedung Bertingkat Berbasis Air Limbah sebagai Penerapan Green Renewable Energy Guna Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan ketiga selesai pada pukul 09.15 WIB dan dilanjut dengan presentasi finalis urutan keempat. Presentasi urutan keempat dilaksanakan pada pukul 09.15 WIB dari kelompok SITANI dengan anggota kelompok yaitu Riska Ayu Febriana dan Muhammad Farrad yang berasal dari Universitas Brawijaya dengan judul “SiTani: Accounting Apps For Help Farmers to Increase Farming Efficiency” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan keempat selesai pada pukul 09.40 WIB dan dilanjut dengan presentasi finalis urutan kelima. Presentasi urutan kelima dilaksanakan pada pukul 09.40 WIB dari kelompok Chemikerin dengan anggota kelompok yaitu Muharom Bagaskara dan Jeesica Hermayanti Pratama yang berasal dari Universitas Sebelas Maret dengan judul “Analisis Potensi Smart-Membrane Hibrida P-Mof (Pvdf/Mof) sebagai Filtrasi Zat Warna dan Adsorpsi Logam Berat” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan kelima selesai pada pukul 10.05 WIB dan dilanjut dengan presentasi finalis urutan keenam. Presentasi urutan keenam dimulai pada pukul 10.05 WIB dari kelompok Thorium dengan anggota kelompok yaitu Dean Hidayat dan Sofia Aulia Mukhsin yang berasal dari Universitas Sebelas Maret dengan judul “Produksi Cepat B-Mj (Biodiesel Berbasis Minyak Jelantah) dengan Iradiasi Microwave dan Kan-M (Karbon Aktif Nanomagnetik) dari Limbah Ampas Kopi” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan keenam selesai pada pukul 10.30 WIB dan dilanjutkan dengan presentasi finalis urutan ketujuh. Presentasi urutan ketujuh dimulai pada pukul 10.30 WIB dari kelompok RANANA dengan anggota kelompok yaitu Millenia Trias Puspa Rukmi dan Alfinza Aulia Sholikin yang berasal dari Universitas Sebelas Maret dengan judul “(RANANA CHEWY): Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Raja dan Daun Meniran sebagai Permen Imunomodulator Dalam Upaya Pencegahan Penularan Covid-19 pada Anak” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan ketujuh selesai pada pukul 10.55 WIB dan dilanjutkan dengan presentasi finalis urutan kedelapan. Presentasi urutan ke dimulai pada pukul 10.55 WIB dari kelompok SILwerage team dengan anggota kelompok yaitu Reza Mochammad Fattah dan Noor A’fiana Desyani yang berasal dari Institut Pertanian Bogor dengan judul “G-Apartment : Apartemen Ramah Energi Berbasis Anaerobic Membran Bioreactor Sebagai Solusi Pengolahan Green Elecrticity Berkelanjutan Guna Mendukung Program Green Renewable Energy” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan kedelapan selesai pada pukul 11.20 WIB dan dilanjutkan dengan presentasi finalis urutan kesembilan. Setelah presentasi urutan kedelapan, MC menunda presentasi urutan selanjutnya dan dilanjutkan dengan acara ishoma dan akan dimulai lagi presentasi pada urutan berikutnya pada pukul 13.10. Presentasi urutan kesembilan dimulai pada pukul 13.10 WIB dari kelompok Deadliner dengan anggota kelompok yaitu      Muhammad Farras Nur Aslam dan Nasywa Nur Fathiyah yang berasal dari Universitas Indonesia dengan judul “Real Time WhatsApp Bot E-Queue: Alternatif Solusi untuk Mengefisiensikan Waktu Tunggu Pasien di Rumah Sakit” selama 15 menit dan dilanjutkan tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan kesembilan selesai pada pukul 13.35 WIB dan dilanjutkan dengan presentasi finalis urutan kesepuluh. Presentasi urutan kesepuluh dimulai pada pukul 13.35 WIB dari kelompok LULUS2021 dengan anggota kelompok yaitu Adelina yang berasal dari Universitas Gadjah Mada dengan judul “EYESEE – Aplikasi Berbasis Mobile Guna Mempermudah Tunanetra Bekerja Sebagai Implementasi Machine Learning” selama 15 menit dan dilanjut tanya jawab dari juri ke finalis selama 10 menit. Presentasi dan tanya jawab finalis pada urutan kesepuluh selesai pada pukul 14.00 WIB. Rangkaian acara hari pertama pun selesai dengan ucapan terimakasih kepada peserta serta juri yang telah berpartisipasi dalam tahap penilaian final ini.

Kemudian, acara dilanjutkan pada hari kedua. Acara hari kedua dimulai dengan briefing dari panitia yang dipimpin oleh Nala Ridhwanul Muizzah. selaku koordinator sie acara pada pukul 07.30 WIB dan dilanjutkan dengan persiapan dan share presensi pada grup finalis. Acara dilanjutkan pada pukul 08.10 WIB dengan pembukaan oleh Muhammad Farhan selaku MC kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara lalu dilanjutkan dengan sambutan-sambutan hingga pukul 08.40 WIB. Sambutan yang pertama dilakukan oleh Hafid Nur Himawan selaku ketua panitia. Kemudian dilakukan sambutan kedua oleh Abdul Hafizh Arif Arafi selaku ketua umum HIMAMIA FMIPA UNS periode 2020. Lalu, dilanjutkan sambutan oleh Drs. Harjana, M.Si, M.Sc., Ph.D. selaku dekan FMIPA UNS. Lalu dilanjutkan sambutan oleh Dr. Abu Masykur S.Si., M.Si. selaku kepala program studi kimia FMIPA UNS. Kemudian, acara dilanjutkan dengan pembacaan CV moderator oleh MC dan dilakukan bincang-bincang kepada finalis NSEC yang dipimpin oleh MC. Setelah itu, dilakukan pengumuman juara lomba esai. Yang menjadi juara 1 adalah Thorium dengan anggota kelompok yaitu Dean Hidayat dan Sofia Aulia Mukhsin yang berasal dari Universitas Sebelas Maret, juara ke 2 adalah kelompok Deadliner dengan anggota kelompok yaitu    Muhammad Farras Nur Aslam dan Nasywa Nur Fathiyah yang berasal dari Universitas Indonesia, dan juara ke 3 adalah kelompok Piece Maker dengan anggotanya yaitu Jodii Arlan Kurnia dan Abdi Malik Rahardjo yang berasal dari Universitas Muhammadiyah Malang. Juara 1, 2, dan 3 mendapatkan medali, uang pembinaan, dan sertifikat. Pemenang best presentation adalah kelompok Thorium dengan anggota kelompok yaitu Dean Hidayat dan Sofia Aulia Mukhsin yang berasal dari Universitas Sebelas Maret. Pemenang best presentation akan mendapatkan sertifikat dan uang pembinaan. Untuk pengiriman sertifikat dan uang pembinaan ini akan dilakukan menyusul.

Setelah pengumuman pemenang selesai, dilakukan penyampaian kesan pesan oleh pemenang dan dilanjutkan dengan dokumentasi pemenang. Setelah itu dilanjutkan webinar sesi 1. Webinar sesi 1 dimulai pada pukul 10.15 WIB dengan pembacaan CV selama 5 menit pembicara oleh moderator dengan pembicara Dr. Tasdiyanto, S. P., M. Si. Materi webinar bertema “Penerapan Sains dan Teknologi sebagai Aksi Penyelamatan Lingkungan Akibat Pencemaran” dimulai pukul 10.20 WIB  yang berdurasi selama 30 menit hingga pukul 10.50 WIB dan dilanjutkan tanya jawab selama 10 menit. Kemudian, dilanjutkan dengan penutupan moderator dan pengambilalihan MC pada pukul 11.05 WIB – 11.10 WIB dan dilanjutkan dengan kegiatan ishoma hingga pukul 12.30 WIB. Pada pukul 12.30 WIB dilanjutkan dengan acara pembukaan oleh MC dan pengambilalihan oleh moderator hingga pukul 12.35 lalu dilanjutkan dengan webinar sesi 2. Webinar sesi 2 dimulai pada pukul 12.35 WIB dengan pembacaan CV selama 5 menit pembicara oleh moderator dengan pembicara Dr. Ing. Muhammad Abdul Kholiq, M. Sc. Materi webinar bertema “Penerapan Green Renewable Energy Sebagai Peningkatan Efisiensi dan Penyediaan Akses Energi yang Berkelanjutan” dimulai pukul 12.40 WIB yang berdurasi selama 50 menit hingga pukul 13.30 WIB dan dilanjutkan tanya jawab selama 15 menit dan dilanjutkan sesi dokumentasi webinar sesi 2. Kemudian, acara diakhiri dengan penutupan oleh MC.