Gapai Ilmu Hingga Negeri Jerman

Hallo readers!! Kali ini ada cerita menarik bersama kakak kita yang akrab disapa Rujito. Disini, kita akan sharing mengenai kuliah di Leipzig, Jerman. Cerita menariknya dimulai dari awal bagaimana Rujito melanjutkan studinya di Jerman. Pada awalnya Rujito sudah mendaftar untuk tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), namun jadwal untuk melaksanakan tes tersebut bersamaan dengan penghargaan peneliti muda MERCK Young Scientist Award 2018  yang ia ikuti. Laki-laki alumni UNS ini sudah mencoba menemui panitia tes CPNS untuk menjadwalkan ulang untuknya, namun tetap tidak bisa. Rujito memutuskan untuk mengikuti MERCK Young Scientist Award karena menurutnya penuh tantangan dan ia berhasil menjadi salah satu finalis.

Setelah batal mengikuti  tes CPNS, Rujito mencoba mencari pekerjaan lain, namun belum berhasil. Saat itu, secara kebetulan, Universitas Leipzig sedang membuka beasiswa untuk calon doktor yang berprestasi selama 1 tahun yaitu beasiswa Erasmus+. Rujito mencoba mendaftar beasiswa tersebut dan diterima. Karena beasiswa ini untuk 1 tahun, Rujito harus mencari beasiswa untuk melanjutkan S3. Rujito berhasil mendapat beasiswa melalui beasiswa DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst).Ketika seleksi beasiswa DAAD, Rujito mempunyai cerita sendiri. “Aku dapet jadwal interview paling terakhir. 2 ruangan disiapkan untuk kategori sains dan sosial, umumnya interview dilakukan selama 10-15 menit. Karena aku jadi saksi saat ngeliat semua para pendaftar keluar ruangan mukanya pucet, gelisah, resah, gak yakin sama interviewnya. Itu ngebuat aku makin deg-deg an dan cemas” cerita Rujito.  Waktu interview tiba, setelah melewati pertanyaan-pertanyaan dengan lancar, Rujito diberitahu oleh seorang koordinator acara bahwa ia berada di posisi pertama dan dari Indonesia ada 5 orang yang juga lolos. Keren!

Saat beradaptasi di tempat baru tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Cara Rujito beradaptasi di Jerman sesuai dengan motto hidupnya, yaitu ia tidak mati-matian mengejar hal yang tidak dibawa mati. Motto itulah yang menjadi pegangannya ketika beradaptasi di Jerman. Menurutnya, cara beradaptasi masing-masing orang berbeda-beda. Rujito sendiri mengaku sudah terbiasa ketika menempuh studinya di UNS yang juga jauh dari asalnya. Kebutuhan sehari-harinya di Jerman sudah tersedia dengan mudah, misalnya transportasi yang sudah masuk dalam biaya semesternya, jadi tidak perlu ragu jika ingin naik bus, tram, dan kereta.

Kendala yang dialami mahasiswa Leipzig ini pada awal-awalnya adalah bahasa sehari-hari, karena sebagian besar orang tua di Jerman kurang bisa berbahasa Inggris. Selain itu, kendala mengenai kesulitan beribadah, karena di Jerman tidak ada adzan sehingga jika akan beribadah harus izin ke professor atau supervisornya. Selain itu, mengenai makanan halal juga menjadi hal yang harus diperhatikan.

Selama menjalani kuliah di Jerman, Rujito tidak hanya berkuliah, ia aktif dalam beberapa kegiatan. Kegiatan yang ia ikuti antara lain, Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI. Di PPI ini ia berpartisipasi dalam berbagai kegiatannya seperti ramah tamah dan  kumpul bareng dengan seluruh orang Indonesia yang berada di Leipzig terutama. Selain itu, Rujito juga mengikuti komunitas seperti komunitas muslim Leipzig dan earthling. “Komunitas muslim Leipzig, kebetulan di Leipzig itu pelajarnya ada ustadz dari gontor sama novelis terkenal Habiburahman el shirazy, yang nulis ayat-ayat cinta. Jadi kita sering ngelakuin pengajian, kajian-kajian yang bermanfaat biar tidak luntur keimanan kita. Kalau earthling sebenernya komunitas global, dari seluruh penjuru dunia. Kebetulan aja yang earthling_id itu dibuat dari pelajar yang ada di jerman. Kegiatannya macam-macam, dari ngadain perlombaan dengan bekerjasama dengan KBRI Berlin, ngadain diskusi ringan seputar SDG dan campaign-campaign yang sekiranya mampu meningkatkan awareness tentang pentingnya menjaga lingkungan” ujar Rujito.

Masalah utama pelajar di sana, dalam mencari pekerjaan part time sangat mudah dan penghasilannya minimal 450 Euro per bulan. “Jadi pelajar pelajar yang disini jadi mudah terdistraksi dari kewajiban utamanya yaitu belajar. Dari 2016 aku disini, aku baru kenal 2 temen aku yang baru selesai kuliahnya, yang lain kebanyakan udah kandas ditengah jalan dan harus balik habis ke Indonesia dengan tangan hampa karena fokusnya terbagi”. Tidak sedikit dari mahasiswa Indonesia yang fokus belajarnya terbagi, sehingga kuliahnya berantakan dan nilainya buruk yang dapat berakibat DO atau drop out.

Setiap orang pasti mengalami yang namanya penat dan stress, Begitu pula yang dialami Rujito. Ia juga pernah mengalami stress akibat dikejar deadline dan diomelin. Dalam mengatasi hal tersebut, Rujito menghibur dirinya dengan melakukan hobi-hobinya. “olahraga itu penting sih buat ngejaga keseimbangan jasmani dan rohani wkwkw, makanya aku suka futsal sama sepedaan, apalagi kalo sepedanya nemu gratis wkkwk” ungkap Rujito.

Setelah menjalani kuliah di Leipzig, menurut Rujito kekurangan kuliah disana yaitu ada beberapa fasilitas yang kurang mendukung untuk pelajar muslim, dimana di kampusnya tidak ada tempat solat dan tempat wudhu. Namun, untuk makanan halal dan masjid tidak perlu khawatir. Di Leipzig banyak masjid dan ada kampung arab jadi tidak perlu cemas apalagi gelisah. Lantas untuk kelebihannya sangatlah banyak. Seperti pendidikan disana hampir gratis dengan fasilitas yang tidak perlu diraguin. Kita juga tau kalau Jerman itu penghasil paten terbanyak di dunia, penemuan-penemuan, ahli-ahli dibidangnya sudah kelihatan dari jaman dahulu.  “Aku dulu baca-baca jurnal buat skripsi aku, eh tiba-tiba sekarang bisa ketemu langsung didepan mata sebagai profesor utama aku. Gak nyangka wkwkw. Jadi wajar aja kalo setiap universitas di Jerman itu fasilitasnya lengkap dan memuaskan. Ambil contoh di kampus aku, semua alat karakterisasi ada lengkap, gak perlu takut buat mati lampu atau rusak” kata Rujito.

Foto Rujito Sesariojiwandono Ridho Suharbiansah saat berada di Leipzig, Jerman

Siapa nih yang kepengen kuliah di Jerman? Menjadi pelajar di jerman akan membuka peluang beasiswa makin lebar, salah satu keuntungan bisa kuliah di luar negeri, bisa memiliki personal branding lebih sehingga menjadi kesempatan untuk memperluas karir secara akademik maupun non akademik jadi lebih besar.

Oke readers, sepertinya telah usai nih cerita dari Rujito. Eitss, tunggu dulu.. rasanya tak lengkap kalau belum mendapatkan pesan hangat dari kakak kita ini. Kini Rujito berpesan “Harus pinter-pinter membagi waktu, karena yang kamu lakukan saat ini akan menentukan 4 tahun lagi dari sekarang. Kuliah itu gak cuma sekedar mencari nilai, duduk didepan laptop, nyontek bareng bareng. Kuliah itu salah satu jalan untuk memperluaskan kemampuan akademik maupun non akademik yang bakal kamu gunain nanti di kehidupan nyata. Gak usah mati-matian untuk mengejar hal yang tidak dibawa mati” pesan hangat Rujito. Tak terasa sudah waktunya kami untuk pamit. Semoga apa yang kami berikan ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Ikan Hiu pergi ke KUA, Sampai Jumpa semua!!

Oleh:

Desy Nila Rahmana (M0319016)

Nisrina Rahma Firdausi (M0319054)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *