Bahan Kimia yang Terkandung Dalam Micin

Gambar makanan mengandung micin. Sumber: fk.unair.ac.id

Hayo siapa yang suka micin nih? Tahu gak kalau micin atau monosodium glutamate (MSG) merupakan salah satu asam amino yang paling banyak ditemukan di alam. Asam amino ini digunakan sebagai penambah rasa dalam bentuk protein terhidrolisis atau sebagai garam monosodium murni. Perlu kalian ketahui bahwa tubuh manusia itu mampu memproduksi asam amino glutamate yang fungsinya mirip dengan MSG. Glutamat yang terkandung di dalam MSG berfungsi sebagai sumber energi untuk jaringan tertentu dan sebagai substrat untuk sintesis glutathione yang berlangsung di dalam tubuh manusia.

MSG atau Monosodium Glutamat adalah penyedap rasa yang sering ditambahkan pada masakan sebagai sarana penyedap makanan. MSG adalah molekul sodium yang dikombinasi dengan asam glutamat, dimana sodium digunakan sebagai penstabil molekul glutamat. asam glutamat sendiri berfungsi sebagai penyedap rasa. Sejauh ini, Food and Drug Administration (FDA), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Food and Agriculture Organization (FAO), dan World Health Organization (WHO) telah mengklasifikasikan MSG sebagai bahan makanan yang aman digunakan, meskipun penggunaannya sebagai zat aditif masih tergolong kontroversional.

Gambar micin. Sumber: Sehatq.com

Mengutip dari The Spruce Eats, MSG adalah kristal berwarna putih yang diekstrak dari asam glutamat alami yang biasa ditemukan di banyak bahan makanan. rumput laut, batang tebu, dan beberapa sayuran tertentu misalnya. Secara kimia MSG berbentuk seperti bubuk kristalin berwarna putih yang mengandung 78% asam glutamat dan 22% gabungan dari sodium dan air. MSG atau micin pertama kali ditemukan oleh Profesor Kikunae Ikeda pada 1908. Pada tahun 1907, Profesor Kikunae Ikeda menyicipi kaldu dashi buatan istrinya yang dibuat menggunakan kombu atau rumput laut jepang yang menghasilkan rasa gurih yang tak biasa. Profesor Kikunae Ikeda pun meneliti kaldu buatan istrinya. dari sana, ia berhasil mengekstrak komponen kristal yang ternyata adalah asam glutamat, yang menghasilkan rasa umami. Saat ini, MSG atau micin yang sering ditemukan pada supermarket biasanya dibuat melalui proses fermentasi bahan nabati seperti batang tebu, bit gula, singkong, atau jagung. Mengutip dari Healthline, MSG yang berasal dari asam amino glutamat ini merupakan asam amino yang paling melimpah di alam dan termasuk asam amino non esensial yang artinya tidak dapat diproduksi oleh tubuh. MSG ini mudah diserap karena tidak terikat dalam molekul protein besar yang perlu diuraikan oleh tubuh.

Gambar struktur micin (MSG). Sumber : Alibaba.com

Bahaya micin pertama kali dikemukakan pada tahun 1969 dimana terdapat penelitian pengujian penyuntikkan MSG dengan dosis tinggi terhadap anak tikus di bawah kulitnya. Hasil yang didapatkan dari percobaan ini adalah anakan tikus mengalami sejumlah masalah otak yang berbahaya. Meskipun begitu, temuan penelitian ini dapat dibantah. memang benar MSG dalam jumlah yang tinggi dapat meningkatkan kadar glutamat dalam darah. Namun, manusia umumnya tidak akan kuat untuk mengonsumsi micin dengan jumlah yang berlebihan. Lantas apakah efek dari mengonsumsi micin? Selama beberapa dekade MSG digunakan sebagai zat aditif penyedap rasa, banyak laporan yang diterima oleh FDA tentang reaksi negatif terhadap makanan yang mengandung MSG. Gejala yang muncul antara lain:

  • Sakit Kepala
  • Berkeringat
  • Terasa tekanan pada wajah atau sesak
  • Mati rasa, kesemutan atau sensasi terbakar di wajah, leher dan area lainnya
  • Detak jantung berdebar cepat
  • Sakit dada
  • Mual
  • Kelemahan

Makanan yang ditambahkan dengan MSG biasanya akan memiliki cita rasa yang umami atau sangat gurih, sehingga membuat orang yang memakannya tidak bisa berhenti makan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang sangat suka memakan makanan yang mengandung MSG dan tak jarang banyak juga orang yang akhirnya kecanduan MSG. Meskipun MSG secara alami terdapat di banyak makanan, dan sering ditambahkan sebagai penambah rasa pada makanan namun jika terlalu berlebihan dalam mengonsumsi MSG dapat menyebabkan beberapa gannguan diantaranya yaitu otot kaku, nyeri sendi, depresi, migrain, insomnia, parkinson, alzheimer, autisme bahkan permasalahan pada sistem pernafasan dan pencernaan. MSG bila dikonsumsi melampaui batas maksimum dan terus-menerus dalam jangka waktu yang lama tanpa kita disadari akan menimbulkan berbagai macam efek samping lain yang sangat membahayakan tubuh kita. Jika MSG dikonsumsi oleh seseorang yang tidak toleransi dengan jumlah lebih dari 3gr/hari maka akan dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi kesehatan. Gejala yang timbul akibat konsumsi MSG disebut dengan sindrom kompleks MSG. Gejala sindrom kompleks antara lain yaitu rasa terbakar pada daerah leher bagian belakang menjalar ke tangan dan dada, mati rasa pada daerah belakang leher, rasa kaku pada wajah,nyeri dada, mual, dan mengantuk. Selama puluhan tahun MSG masih dikaitkan dengan penyebab penyakit kanker, serangan jantung, obesitas, asma, serta penyakit lainnya, bahkan berpengaruh pada kecerdasan.

Namun, sejauh ini peneliti belum menemukan bukti pasti tentang hubungan antara MSG dengan gejala yang dikeluhkan. Para peneliti mengakui terdapat adanya kemungkinan bahwa sebagian kecil orang memiliki reaksi jangka pendek terhadap MSG.

Kebiasaan mengonsumsi MSG dalam jangka panjang terbukti dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Studi penelitian lain juga sempat menuding MSG sebagai salah satu penyebab obesitas, namun secara ilmiah hal ini belum terkonfirmasi. Lebih lanjut lagi, konsumsi MSG pada ibu hamil juga belum diketahui aman atau tidaknya. Penggunaan MSG dapat dikurangi dengan mengganti zat penyedap tersebut oleh beberapa bahan alami seperti tomat, kecap asin, jamur, sawi putih, kecap ikan, rumput laut, dan zaitun.

Gambar bumbu alternatif penyedap masakan pengganti micin (MSG). Sumber : rjeem.com

MSG tidak hanya memiliki dampak negatif saja, tetapi MSG juga memiliki dampak positif, antara lain:

  • Merangsang produksi air liur. Air liur sendiri berfungsi membasahi makanan agar dapat dilumat dan dapat diproses dengan mudah di tenggorokan.
  • Mengurangi konsumsi garam, untuk menambah cita rasa masakan MSG sering digunakan. Kandungan natrium pada micin sangatlah kecil jika dibandingkan dengan garam, dimana jumlah kadar natrium pada MSG hanya 13.6% sedangkan pada garam mencapai 43.3%.
  • Micin terbukti sebagai zat aditif yang aman dikonsumsi, sejumlah lembaga internasional seperti Food and Drug Administration (FDA), World Health Organization (WHO), dan Food Standards Australia New Zealand (FSANZ) menyatakan bahwa micin aman dikonsumsi oleh tubuh asalkan digunakan dalam jumlah yang wajar.
  • Penambah cita rasa masakan, masakan yang ditambahkan oleh micin menjadi lebih gurih dimana rasa ini disebut sebagai umami.
  • Membuat tanaman makin subur dan segar, natrium pada micin juga berguna untuk tanaman sebagai salah satu unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Menyiram tanaman dengan micin yang telah dilarutkan dengan air dapat membuat tanaman menjadi lebih hijau.
  • Mengurangi penggunaan pupuk, dengan menyiram tanaman menggunakan air micin artinya tanaman tidak membutuhkan pupuk tambahan karena telah mendapat nutrisi dari air micin tersebut.
  • Meningkatkan produksi cairan lambung, bagi penderita gastritis atrofik menambahkan micin pada makanan dapat membantu melancarkan pencernaan. Gastritis atrofik adalah penyakit radang lambung yang disebabkan oleh rusaknya lendir yang melapisi dinding lambung sehingga terjadi penipisan dinding lambung. Micin atau MSG terbukti meningkatkan produksi cairan lambung yang artinya micin dapat mengurangi risiko gastritis atrofik.

Oleh karena itu, konsumsilah monosodium glutamate sewajarnya saja. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Salam sehat 😊.

Referensi

Jurnal :

  • Freeman, M. 2006. Mempertimbangkan kembali efek monosodium glutamat: tinjauan literatur. Jurnal Praktisi Perawat Akademi Amerika , 18 (10): 482-486.
  • Kazmi, Z., Fatima, I., Perveen, S. dan Malik, S. S. 2017. Monosodium glutamate: Review on clinical reports. International Journal of Food Properties, 20 (52): S1807-S1815.
  • Sulastri, S. 2017. Analisis Kadar Monosodium Glutamat (MSG) pada Bumbu Mie Instan yang Diperjualbelikan di Koperasi Wisata Universitas Indonesia Timur. Jurnal Media Laboran , 7 (1): 5-9.

Website:

  • https://www.kompas.com/food/read/2021/04/03/145349575/bagaimana-proses-membuat-mecin-berasal-dari-bahan-bahan-ini?page=all
  • https://www.halodoc.com/artikel/ketahui-dampak-msg-berlebih-bagi-kesehatan
  • https://www.alodokter.com/kontroversi-umami-dari-msg
  • https://www.sehatq.com/artikel/micin-terbuat-dari-apa-ini-penjelasan-lengkapnya
  • https://www.idntimes.com/food/dining-guide/eka-amira/jangan-salah-msg-juga-punya-7-manfaat-kesehatan-lho-c1c2/7
  • https://www.sehatq.com/artikel/kelakuan-aneh-generasi-micin-karena-msg-benarkah

Dibuat oleh :

  1. Auliya Maharani L (Kimia, 2020)
  2. Nova Septi Widyaning P (Kimia, 2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *